Robohnya Studio Kami; Kisah Radio Komunitas di Lokasi Bencana

Oleh Saiful Bakhtiar

Catatan ini dipersiapkan untuk pertemuan AMARC ASIA PASIFIC, Bangalore India 2010

Ketika Bencana Datang

Tanggal 26 Mei 2006 menjadi kenangan tersendiri bagi radio Menara Siar (MSP) FM di Desa Terong, Kecamatan Dlingo, Bantul, Jogjakarta. Sehari sebelumnya, radio MSP FM dan warga telah merencanakan untuk membuat kegiatan off air berupa wisata alam yang diikuti oleh seluruh warga. Namun Tuhan berkehendak lain. Gempa berkekuatan 5,9 Skala Richter pada pukul 05.53.58 membuat rencana yang telah disusun gagal dilaksanakan.

“Mixer, komputer, tape recorder dan pemutar CD hancur tertimpa tembok”, kisah Sudirman, pegiat radio MSP FM. Tiga hari pertama paska gempa, semua dalam kondisi tidak menentu. Semua warga sibuk dengan usaha penyelamatan keluarganya. Namun setelah tiga hari, pegiat radio MSP FM memutuskan radio harus segera mengudara. Beruntung, trasmitter dan tower masih bisa berfungsi dengan baik. Maka dengan menggunakan tape, aktivitas siaran pun dimulai. Gempa menghancurkan infrastruktur jaringan listrik di hampir semua wilayah di Jogjakarta. Lagi-lagi beruntung, radio MSP FM mendapat dukungan dari warga yang mempunyai generator. Mereka memnjamkan secara cuma-cuma karena kesadaran akan pentingnya peran radio komunitas bagi masyarakat. Kehadiran radio menjadikan informasi yang dibutuhkan masyarakat menjadi lebih cepat diterima. Bahkan melalui radio MSP FM, warga desa Terong dapat memberikan laporan kondisi mereka ke berbagai lembaga. Dilain pihak, masyakat pun bisa menapatkan perkembangan terkini dari pemerintah daerah terhadap penanganan korban gempa.

Dua Bulan Paska Gempa

Paska gempa, program radio berubaha total. Radio MSP FM berperan tidak hanya menjadi media informasi tetapi sekaligus menyalurkan bantuan dari berbagai lembaga kepada komunitasnya. Radio menjalankan fungsi distribusi bantuan hampir selama 3 minggu. Sementara itu untuk mendapatkan perkembangan informasi terkini, radio MSP FM menjalin kerja sama dengan pihak-pihak terkait seperti Badan Meterologi dan Bencana (BMG) DIY, kepolisian, Sarkorlak baik propinsi maupun kabupaten serta berbagi Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Kerjasama ini untuk mendapatkan informasi dari berbagi pihak yang tepat akan desas desus yang beredar di warga seperti akan adanya gempa susulan, tsunamai, penjarahan dan pencurian dan berbagai informasi yang meresahkan warga paska gempa. Hanya dengan lima orang, radio MSP FM bekerja tanpa mengenal lelah selama masa ‘ketidakpastian’. Setelah dua bulan, kondisi mulai membaik. Tahapan setelah masa tanggap darurat menjadi tahapan rekonstruksi. Tahapan ini memiliki tingkat konflik antar warga yang tidak kalah tinggi. Radio MSP FM berperan untuk melakukan pendataan jumlah keluarga di wilayah Terong. Data ini digunakan sebagai acuan kegiatan rekonstruksi. Peran radio MSP FM menjadikan desa Terong menjadi desa tercepat dalam melakukan pendataan akbiat gempa. Data dapat dikumpulkan selama dua hari. Proses pendataan kerusakan bukan hal yang mudah, terlebih dengan ketidakjelsan indikator kategori kerusakan rumah warga. Para pegiat radio MSP FM dengan cepat berinisiatif mencari informasi ke kantor pemerintahan kabupaten. Hasilnya, radio MSP FM mendapatkan selebaran yang berisikan kriteria rumah rusak. Informasi ini kemudian diputar berulang-ulang sehingga semua ketua RT yang melakukan pendataan bisa lebih akurat. Untuk memudahkan perna ketua RT dan terciptanya pemahana yang sma di tiap warga, pegiat radio MSP FM membagikan satu radio transistor kepada tiap ketua RT dan mewajibkan mereka untuk mendengar radi selama 24 jam.

Setelah hasil pengolahan data tingkat kerusakan diumumkan, permasalahan muncul. Sebagian warga yang tidak mendengarkan radio melakukan protes dan menanyakan kategorisasi rumah rusak. Namun permasalahan tersebut bisa diselesaikan oleh warga dan radio MSP FM terus melakukan penyiaran informasi terkaut dengan kategori rumah rusak.

Radio MSP FM tidak hanya menyajikan informasi tapi juga hiburan berupa pemutaran lagu, ketoprak, dan wayang. Hiburan ini menjadi bagian dari trauma healing yang dilakukan oleh radio MSP FM. Aktivitas off air yang bersifat menghibur paska gempa menjadi sangat penting bagi masyarakat. Berbagai persoalan paska gempa mampu dihapus bersama dan warga kembali menata kehidupannya dengan lebih baik. Salah satu kegiatan off air yang dilakukan dengan menggunakan kesenian tradisional yang masih kuat di Terong seperti ketoprak. Pementasan ketoprak ini selain dipentaskan secara langsung dihadapan ribuan warga juga disiarkan melalui radio sehingga warga yang tidak bisa datang masih bisa mengikuti pementasan ini di rumah mereka.

Semangat itu masih ada

Pengalaman penanganan bencana khususnya gempa di radio MSP FM menjadi pembelajaran tersendiri bagi tiap radio komunitas di berbagai wilayah di dunia. Radio MSP FM Jogjakarta mampu membuktikan peran radio komunitas yang mampu secara cepat menjawab berbagai kebutuhan informasi termasuk kebutuhan logistik bagi warga paska gempa. Selanjutnya, radio pun mampu meneruskan peran mereka dalam tahap rekonstruksi. Radio menjadi media pengaduan akan berbagai penyimpangan distribusi bantuan sekaligus media komunikasi tahapan rekonstruksi.

Tidak kalah penting, radio komunitas juga terbukti mampu menjadi alat trauma healing bagi warga dengan cara-cara pendekatan budaya lokal. Pendekatan budaya ini menjadi sangat efektif menghapus trauma psikologi yang hadapi korban bencana seperti gempa yang telah terjadi di Jogjakarta pada tahun 2006 silam.

Tentang saifulbakhtiar

Saiful Bakhtiar, dilahirkan dari rahim radio dan memiliki darah R.
This entry was posted in Artikel Radio and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Robohnya Studio Kami; Kisah Radio Komunitas di Lokasi Bencana

  1. Meylisa says:

    Mas Bakhtiar, salam kenal. Saya Meylisa, mahasiswa Jurnalisme Siar dari UI. Saya bermaksud membuat skripsi mengenai jurnalisme bencana, dengan topik advokasi oleh media komunitas. Untuk itu saya bermaksud bertanya lebih jauh soal radio komunitas tempat Mas bekerja. Untuk itu, di mana saya bisa menghubungi Mas? terima kasih atas perhatiannya.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s